Ideologi Ad-Dliroriyah Jabariyah Moderat VS Ahlussunnah wal Jamaah


SKRIPSI
LIMA  IDEOLOGI AD-DLIRORIYAH MERUPAKAN CIKAL BAKAL DARI JABBARIYAH MODERAT MENURUT PERSPEKTIF 
AHLUSSUNAH WAL JAMAAH



DOSEN PEMBIMBING
KM. Iin Ahmad Taqiyudin

DISUSUN OLEH
Dzikri Sihabul Millah
019 00 520

MA’HAD ‘ALY PONDOK PESANTREN MIFTAHUL HUDA
MANONJAYA TASIKMALAYA JAWA BARAT
TAKHOSUS ‘AQIDATUL ISLAM WA FALSAFATUHA
SK. KEMENAG RI TAHUN 2016 NSMA : 241232060002



MOTTO


vسوابق الهمم لاتخرق اسوار الأقدار
Berkobarnya keinginan tak akan kuat menerjang tirai-tirai kekuasaan”
v    مامن نفس تبديه الا وله قدر فيك يمضيه
“Tiada satu pun napas yang terhembus darimu, melainkan disitu taqdiryang mengalir pada dirimu”
Syeikh Ibnu ‘Athoillah  ( Al Hikam)







Skripsi ini penulis dedikasikan  sebagai rasa syukur dan terimakasih kepada Al-marhummah ibunda tercinta berkat belaian kasih sayang serta jasanya  dan atas iringan do’a, perhatiaaan, arahan serta motivasi dari ayahanda tercinta  penulis untuk terus berjuang dalam mengarungi kehidupan ini. Tidak lupa kepada sanak family, kerabat serta sahabat  yang telah ikut andil serta mengorbankan moril maupun materil demi terwujudnya skripsi ini. Hanya kepada Allah-lah penulis berharap semoga segala amal kebaikannya dibalas dengan   pahala   yang   berlipat   ganda, amiin.




ABSTRAKSI

Dzikri Sihabul Millah (01900511) ; “Lima Ideologi Ad-Dliroriyah merupakan Cikal Bakal dari Jabariyah Moderat Menurut Perspektif Ahlussunnah wal Jamaah”

            Secara global jabariyah terbagi  menjadi  dua golongan yaitu, jabariyah ekstrim dan jabariyah moderat. Diantara ideologi  yang  mereka teguhkan adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri manusia merupakan karya tuhan semata, namun  disamping itu jabariyah moderat berpendapat  bahwa; “Mereka berintervensi terhadap suatu pekerjaan dalam menghasilkan sebuah karya.”

            Sehingga pandangan ini hampir sama dengan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, walaupun pada prinsipnya berbeda dengan pengertian adanya hasil suatu pekerjaan diniscayakan merupakan prodak tuhan semata, tanpa ada intervensi sedikitpun dari makhluk diberi freewil (kehendak bebas)  dengan konsep kasab dan iktisab.

            Dengan dua konsep ini  seolah-olah Ahlussunnah wal Jamaah dan golongan Ad-Dliroriyah memiliki kesamaan yang identik padahal azasnya berbeda. Penyebabnya golongan Ad-Dliroriyah memahami  suatu pekerjaan dihasilkan dari dua sisi; yang pertama tuhan dan yang kedua makhluk sedangkan ahlussunnah wal jamaah  walaupun menetapkan kasab dan iktisab sebagai modal makhluk untuk melakuakan sebuah pekerjaan akan tetapi pada dasarnya makhluk tidak memiliki kemampuan sedikitpun untuk melakukan  dan menghasilkan sebuah pekerjaan.

            Hal inilah yang merupakan salah satu poin yang akan dibahas di dalam skripsi  ini dan mencoba  untuk memberikan solusi kreatip di dalam masalah  yang ambigu (memiliki dua makna) dalam permasalahan prinsip yang bersebrangan dengan ahlussunnah wal jamaah dan diharapkan skripsi ini  mampu menjadi jawaban segala masalah di tengah gempuran-gempuran kesesatan   yang   mengklaim   kebenaran   secara   persial.

KATA PENGANTAR
بـســــــــم الله الرحمـن الرحــيم
            Alhamdulillah, segala pujian dan  keagungan hanyalah milik Allah SWT, atas segala rahmat taufik dan hidayah-Nya yang senantiasa  diberikan kepada penulis  dalam menyelesaikan  skripsi ini hingga akhirnya sampai kepada tangan pembaca.
            Sholawat dan salam senantiasa penulis haturkan  kepada pembawa risalah islam yakni baginda Nabi Besar Muhammad bin Abdulloh  Rosululloh SAW. Tidak lupa kepada keluarga, sahabat, tabi’in dan tabiatnya sehingga sampai kepada kita selaku umatnya.
            Seiring dengan perkembangan zaman modern disertai perbedaan pemahaman ideologi keilmuan dan kesenjangan sosial yang sangat signifikan, kemudian pada akhirnya menimbulkan lahirnya sekte (golongan) yang berimbas adanya perpecahan yang mengatas namakan keselamatan  ideologi  sebuah golongan. Oleh karena itu, penulis menghadirkan sebuah judul : “ Lima Ideologi Ad-Dliroriyah Merupakan Cikal Bakal dari Jabbariah Moderat Menurut Perspektif Ahllu Sunnah Wal Jammah”.
            Selanjutnya penulis bersyukur masih ditakdirkan berada di Pondok Pesantren Miftahul Huda sampai pada jenjang akhir  Ma’had  ’Aly tingkat empat. Ini semua berkat karomah dari pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Marhum Al-Magfurlah  Uwa Ajengan (KH. Khoer Affandy) serta iringan do’a dari seluruh Dewan Kiyai Pondok Pesantren Miftahul Huda, penulis bisa seperti ini.
            Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari masih jauh dari kesempurnaan dikarenakan keterbatasan khazanah keilmuan dan intelektualitas penulis sebagaimana mestinya.  Sehingga tidak ada karya yang paling sempurna selain  maha karya Allah SWT. Walaupun demikian, penulis berusaha untuk  semaksimal mungkin dalam penyelesaian penyusunan skripsi ini dengan modal roja serta keyakinan akan petunjuk Rahmat  Allah SWT, dan berkat arahan dari pembimbing sehingga pada akhirnya penulis bisa menyelesaikan skripsi ini, walaupun dalam bentuk sederhana. Dengan tidak mengurangi rasa ta’dzim (keagungan) rasa terimakasih penulis ucapkan kepada:
1.    Syaikhuna Almukarrom K.H. Asep Ahmad Maosul Affandy  selaku  Pimpinan Umum Pondok Pesantren Miftahul Huda.
2.    Syaikhuna Almukarrom K.H. Abdul Aziz Affandy   selaku Dewan Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda.
3.    Syaikhuna Almukarom K.M. Dodo Aliyul Murtadlo salaku Ketua Prodi Aqidatul Islam Wafalsafatuha Pondok Pesanteren Miftahul Huda.
4.    Syaikhuna Almukarrom K.H. Ahmad Sya’ban selaku kepala bidadang Akademik Pondok Pesantren miftahul huda.
5.    Syaikhuna Almukarrom K.M. Abdul Karim Mukhtim selaku ketua pelaksana wisuda.
6.    Syaikhuna Almukarrom K.M. H. Alfi Hasan  selaku mentor Kordinator Asram Utsman bin ‘Affan.
7.    Syaikhuna Almukarrom K.M. Iin Taqiyudin selaku Dosen pembimbing.
8.    Seluruh rekan-rekan seperjuangan MA IV Kebanggaan yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini.
      
            Segala kebenaran yang terdapat dalam skripsi  ini mutlak dari Allah SWT, dan berbagai kesalahan serta kekurangan adalah murni dari kebodohan, kelemahan dan kesalahan penulis.  Hanya kepada Allah SWT penulis berserah diri, semoga dengan ini menjadi ladang amal kebaikan serta dibalas oleh Allah SWT, dengan balasan yang berlipat ganda dan semoga  skripsi ini bermanfaat bagi penulis,umumnya bagi  para pembaca.  “Amiiin”
            Terakhir, penulis berharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi terwujudnya koreksi dan kelayakan skripsi ini di masa yang akan datang.

                                                                               Wasalam,
                                                                   Miftahul Huda,  01 / 08 / 2018 M


                                                                                Penulis,
                                                                      Dzikri Sihabul Millah



DEKLARASI
Yang bertandatangan dibawah ini, saya :
NAMA                        : Dzikri Sihabul Millah
NIM                            : 019 00 520
JUDUL                       : Lima Ideologi Ad-Dliroriyah Merupakan Cikal Bakal dari 
  Jabbariah Moderat Menurut Perspektif Ahllu Sunnah wal 
  Jamaah

            Menyatakan dengan sebenarnya, bahwa skripsi yang saya susun ini bersumber dari kitab yang mu’tabaroh sebagai bahan analisa primer dan sekunder.
            Adapun kerangka pemikiran dan analisa penulisan, bersunber dari pemikiran penulis setelah mengikuti rangkaian pembelajaran di Pesantren miftahul huda terutama di tingkat Ma’had ‘Aly.
            Hal-hal yang bersipat komplementer dalam analisa seperti kutipan para ahli dan ulama, penulis cantumkan footnote sebagai rujukan data.
            Apabila dalam perjalannya terdapat kesalahan analisa,sirqoh / pengambilan data secara ilegal, penulis bersedia menerima koreksi dan kritik demi perbaikan.


                                                                                                Manonjaya, 1439 H.

           Penulis;
Dzikri Sihabul Millah                         



BAB I
PENDAHULUAN
Sebelum penulis mengupas lebih jelas dari materi-materi yang akan dibahas dalam BAB I penulis akan memaparkan rangkaian sub materei terlebih dahulu dianatanya ; Latar balakang masalah, alasan pemilihan judul, tujuan penulisan, fokus penelitian, kerangka pemikiran, hipotesis, dan metode penelitian.
1.1    Latar Belakang Masalah
Manusia yang hendak menyingkap rahasia Alloh SWT melalui tanda-Nya akan melahirkan berbagai ilmu pengetahuan dari segi akal pemikiran terhadap sturktur kehidupan apabila dikaji lebih jauh secara kolektip maupun kelompok maka akan menghasilkan ideologi, sosiologi, komunikasi, hukum dan sejarah.
Berangkat dari berbagai aspek inilah manusia dituntut  untuk menentukan sebuah pilihan demi terciptanya keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak.
Diantara sekian banyaknya suku bangsa, ras, kepercayaan dan kultur masyarakat di dunia ini terdapat banyak pemahaman ideologi golongan terhadap keyakinan umat untuk beragama. Oleh sebab itu kita harus benar-benar untuk mengadopsi sebuah ideologi golongan, karena di akhir nanti golongan ini akan terbagi menjadi 73 golongan dan hanya satu golonganlah yang akan selamat yaitu Ahlus Sunah wal Jama’h.
Ketika kita  mengamati histrografi para ahli kalam (teologi) maka kita akan menemukan berbagai macam pemahaman dan doktrin dari golongan islam. Ada diantara mereka yang memiliki pemahaman fatalis dengan pengertian hamba tuhan (makhluk) tidak memiliki daya apapun untuk melakukan amal perbuatan dan Tuhan lah yang memiliki hak preogratif atas semua hal yang terjadi, baik dalam bentuk kemaslahatan maupun kemadharatan, pemahaman inilah yang dimiliki oleh golongan Jabariyah .
Mengenai kemunculan pemahaman Jabariyah  ini, para ahli sejarah mengkajinya melalui pendekatan geokultural bangsa arab diantara yang dimaksud adalah Ahmad Amin, ia menggambarkan bahwa kehidupan bangsa arab yang dikungkung oleh gurun pasir sahara memberikan pengaruh besar kedalam gaya cara hidup mereka. Lebih lanjut dalam kondisi demikian masyarakat arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginannya sendiri, akhirnya mereka banyak tergantung kepada kehendak alam yang membawa mereka  kepada sikap fatalisme.
Seiring dengan berjalannya waktu golongan jabariyah  terpecah menjadi beberapa golongan dengan berbagai pemahaman yang berpariasi ada yang berhaluan ekstrim Jahmiyah yang salah satu pendaptnya bahwa surga dan neraka tidak kekal, adapula golongan jabariyah  moderat seperti golongan An-Najariyah yang berpendapat    bahwa tuhan tidak dapat dilihat di akhirat kelak, serta golongan Ad-Dliroriyah pengikut Dliror Bin Amar yang memiliki doktrin tentang perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pelaku secara bersamaan, artinya perbuatan manusia tidak hanya ditimbulkan oleh tuhan melainkan manusia pun ikut intervensi dalam perbuatan tersebut.
Doktrin-doktrin yang ditawarkan oleh Ad-Dliroriyah menarik untuk dibahas dan dijadikan sebagai bahan kajian, inilah yang menjadi fokus penulis untuk dipaparkan dan dianalisa serta memberikan problem solfing (pemecahan masalah) yang dapat memberikan pencerahan dan membuka keabstrakan, membedah keambiguan demi terciptanya maksud, dan untuk meluruskan aqidah-aqidah yang bersebrangan dengan Ahlus Sunah wal Jama’h. Latar belakng inilah yang mendorong penulis untuk mengangkat judul skripsi ini : Lima Ideologi Ad-Dliroriyah Merupakan Cikal Bakal dari  Jabariyah   Moderat  Menurut  Persfektif Ahlussunnah wal Jamaah.
1.2    Alasan Pemilihan Judul
Kecenderungan naluri manusia yang selalu ingin hidup instan dalam berbagai aspek kehidupannya. Sehingga mayoritas orang awam tidak mampu menyaring informasi secara utuh, terlebih hal-hal yang menyangkut ideologi sebuah golongan. Oleh karena itu penulis menyajikan judul ini untuk mengback up ideologi tersebut dan memisahkan antara ideologi yang hak dengan ideologi yang bathil.
Berberapa faktor alsan yang bersifat umum diantaranya sebagai berikut:
1.    Terdegrasinya tendensi umat dalam upaya mengenal kajian yang dapat membawa setiap individu manusia ke arah Ahllus Sunnah wal Jamaah.
2.    Mayoritas umat yang tidak faham akan maksud pemahaman aqidah ahlu sunnah wal jamaah, karena minimnya pemahaman akan kesesatan ahli kalam.
3.    Mudahnya umat ini terpengaruh dengan ajaran sesat yang meracuni keabsolutan ajaran islam.
Adapun faktor penyebab yang bersifat khusus  adalah sebagi berikut :
1.    Sebagai syarat menyelesaikan jenjang akhir Ma’had ‘Aly Pondok Pesantren Miftahul Huda.
2.    Dalam rangka mengisi kepustakaan Ma’had ‘Aly Pondok Pesantren Miftahul Huda.
3.    Dalam rangka memanfaatkan ilmu kepada para pembaca sebagai Da’wah Islamiyah.

1.3    Tujuan Penulis
Ketika seorang nahkoda berlayar di atas kapal pasti memiliki tujuan untuk bertepi di sebuah dermaga, begitupun dengan penulis di dalam penyusunan skripsi ini yakni :
1.    Membangkitkan semangat dan memberikan motivsasi kepada umat supaya mengkaji lebih dalam ajaran islam, sehingga paham, kemudian tertarik dengan ajaran Ahlu Sunah wal Jama’h.
2.    Memberikan pemahaman akan urgensitas penerapan Aqidah Ahlu sunnah wal jamaah dari sejak dini.
3.    Memperkaya khazanah keilmuan umat islam terkait ideologi dan doktrin golongan Ad-Dliroriah sehingga kita dapat memahami epistimologi golongan tersebut secara komperehensif agar tidak menimbulkan kegagalan dalam pemahaman.
1.4    Fokus Masalah
Penulis mencoba memfokuskan masalah agar mendpatkan hasil yang sesuai dengan kontek sistematik melalui pemilihan kata-kata perkalimah sehingga menjadi sistematis  yang terperinci dan teridentifikasi sebagai berikut :
1.    Lima ideologi Ad-Dliroriyah
2.    Ad-Dliroriyah merupakan cikal bakal Jabariyah  moderat.
3.    Bantahan Ahlu Sunnah mengenai ideologi Ad-Dliroriyah.
1.5    Kerangka Masalah
Untuk mempertegas dan mempertajam isi skripsi ini penulis menguraikan sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I      PENDAHULUAN
1.1    Latar belakang masalah
1.2    Alasan pemilihan judul
1.3    Tujuan penelitian
1.4    Fokus masalah
1.5    Kerangka pemikiran
1.6    Hipotesis
1.7    Metode penulisan
BAB II ANALISA TEORITIK
2.1  Ta’rif Kata dalam Judul
2.2 Lughot dan Terjemah
2.3 Narkib, Qaidah Nahwu Sorof  dan Bilagoh
BAB III PEMABAHASAN
3.1    Lima ideologi Ad-Dliroriyah.
3.2    Bantahan Ahllu Sunnah wal Jamaah mengenai Ideologi Ad-Dliroriyah.

BAB IV KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
4.2 Implikasi dan Aplikasi
BAB V  PENUTUPAN
5.1 SARAN UNTUK UMUM
5.2 SARAN UNTUK AL MAMATER
5.3 DO’A
DAFTAR PUSTAKA
1.6    HIPOTESIS
Ad-dliroriyah merupakan sebuah golongan Jabariyah  moderat yang memiliki pandangan ideologi diantaranya bahwa ; dapat melihat Alloh SWt di Akhirat nanti dengan kemampuan indra ke enam manusia dan suatu pekerjaan manusia adalah ciptasan Alloh SWT pada hakikatnya, namun manusia berintervensi dalam mewujudkan sebuah hasil dari pekerjaan tersebut.
Sementara menurut ideologi ahgli sunnah wal jamaah terhadap melihat Alloh SWT di akhirat kelak adalah sebuah anugrah karunia yang amat berharga dibandingkan dari berbagai kenikmatan yang ber ada di surga. Kemudian menyanggah bahwa memang benar  segal sesuatu pekerjaan diciptakan oleh Alloh SWT dan manusia tidak memiliki hasil dari pekerjaan trsebut namun pekerjaan tersebut merupak bentuk ikhtiyar dari manusia dalam segi kasab (usaha) manusia.
1.7    Metodelogi Penelitian
Di dalam kodifikasi skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian yang lebih terarah  yaitu dengan cara sebagai berikut:
1.    Metode Kualitatif
Metode kualitatif adalah sebuah metode yang mengkaji referensi dari berbagai macam karangan ilmiyah berupa kitab-kitab pustaka islami, buku-buku umum, majalah dan artikel-artikel yang terkait. Adapun sumber primer yang penulis gunakan adalah kitab Milal wa Nihal karya Imam Abil Fath Muhammad bin abdul Karim As-Syarastsani dan selin  dari kitab tersebut adalah sumber sekunder.
2.    Metode Deskripsi
Metode deskripsi adalah sebuah metode yang mampu mengjabarkan suat permasalahan secara mendetail dan terperinci dengan melakukan penyesuian hukum-hukum yang lebih tinggi (tarjih) rumusan ilmiyah serta pengetahuan atau hukum melalui dalil-dalil yang sohih. 

BAB II
ANALISA TEORITIK
Setelah penulis selesai menjelaskan BAB I maka penulis akan melangkah ke BAB II namun, sebelum lebih jauh membahas akan bahasan di bab dua ini, penulis akan menguraikan terlebih dahulu sub bahasan yang akan dibahas pada bab dua ini diantaranya; Ta’rif kata dalam judul, history, lughot, terjemah, tarkib, kaidah nahwu, sorof, bilagah, dalil-dalil, pandangan ulama lain dan kerangka berpikir.
2.1       Ta’rif Kata dalam Judul
Dengan harapan semoga skripsi ini menjadi  langkah awal  dalam  memahami  dan  menjelaskan   atas  judul  yang penulis hadirkan.  Di sini  penulis akan membahas beberapa pengertian atau istilah yang terdapat dalam judul skripsi ini. Adapun materi kata yang akan penulis paparkan adalah :
1.      Pengertian Ideologi
2.      Pengertian Ad-Dliroriyah
3.      Pengertian Merupakan
4.      Pengertian Cikal Bakal
5.      Pengertian Jabariyah
6.      Pengertian Moderat
7.      Pengertian Menurut
8.      Pengertian  Perspektif
9.      Pengertian Ahlu Sunnah wal Jamaah

                        2.1.1    Pengertian Ideologi
            Kata ideologi merupakan kumpulan  konsep bersistem yang dijadikan asas atau pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan dengan ide-ide yang teratur mengenai bermacam –macam maslah cara berfikir sesorang atau suatu, kelompok, golongan, sudut pandang, pandangan hidup, sosial, politik, kepercayaan.[1] Secara etimologi idiologi berasal dari bahasa Inggris yakni dari kata idea yang memilliki arti  gagasan, konsep pengertian dasar cita-cita. Sementara kata logi didalam bahasa Yunani menjadi  kata logos  yang berarti ilmu atau pengetahuan.[2]
2.1.2 . Pengertian Ad-Dliroyah
Ad-Dliroriahh adalah pengikut Diror bin Umar dan                 Hapas Al-Faradi yang memiliki pendapat dalam masalah                  sifat Alloh SWT, tentang per’itikadan, keyakinan dan sumber ajaran islam namun dalam pendapatnya ada yang melenceng    dengan   Ahlussunah  wal   Jamaah.[3]
2.1.3. Pengertian Merupakan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata merupakan              adalah  yang    memiliki    makna    memberi rupa,    membentuk,    dan    membandinngkan.[4]

2.1.4. Pengertian Cikal Bakal
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia cikal bakal adalah seorang pemula yang mendirikan, melahirkan, sebuah kelompok  atau  golongan.[5]

2.1.5. Pengertian Jabariyah
Kata jabariyah berasal dari kat Jabara  yang berarti memaksa  di dalam Al-Majid dijelaskan bahwa nama Jabariyah mengandung arti memaksa, megharuskan untuk melakukan sesuatu.[6]  Ketika dikatakan lafadz Al-Jabar dalam bentuk mubalaghah artinya Alloh SWT Maha Memaksa dan ungkapan  Al-Insanu Majburun dilihat dari sudut pandang ilmu  Nahwu  merupakan isim maf’ul  tsulasi majid warna pertama   bab    ke   dua     (جبّر – يجبر – وذك مجبور ).[7] 
Selanjutnya kata jabara  (fi’il madi / bentuk pertama)  ditambah Ya Nisbat menjadi Jabariyah yang memiliki makna  suatu kelompok, golongan  atau aliran.[8]  Dalam Bahasa Inggris Jabariyah disebut fatalism atau predestination  yaitu faham yang menyebutkan bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha dan qadar Tuhan semata. [9]    Syekh  Asy-Syahratsani  dalam  kitab  Al- Milal  wa  An-Nihal menegskan bahwa faham Al-Jabar berarti menghilangkan perbuatan manusia  dalam  arti  yang  sesungguhnya  dan menyandarkan  segala sesuatu kepada Alloh SWT, dengan kata lain manusia mengerjakan   perbuatannya    dalam    keadaan   terpaksa.[10]
Asal-usul munculnya faham al-jabar pertama kali diperkenalkan oleh Jad bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm bin Safwan dari Khurasan. Dalam sejarah teologi islam Jahm tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliran Jahmiyah dalam kalangan Murji’ah, ia adalah sekretaris Suraih bin Al Haris yang selalu menemaninya dalam gerakan melawan kekuasaan Bani Umayah.[11]
Benih-benih faham Al-Jabar terlihat dalam pristiwa sejarah islam dianatarany ketika Nabi Muhammad SAW  menjumpai sahabatnya yang sedaang bertengkar dalam masalah taqdir, Nabi melarang  mereka untuk memperdebatkan permasalah tersebut agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat yang mengandung masalah taqdir.[12]
Dalam kepemimpinan Umar bin Khatab pernah menangkap seseorang yang yang ketahuan mencuri ketika diintrogasi pencuri itu berkata : “ Tuhan telah menentukan aku untuk mencuri ”.  Mendengar ucapan itu Umar marah sekali dan mengagap orang itu telah berdusta kepada tuhan, oleh karena itu Umar memberikan dua jenis hukuman kepada pencuri tersebut. Pertama, huku potong tangan karena mencuri  dan hukuman yang ke dua dikarenakan salah menempatkan dalil ayat Al-Qur’an tentang masalah taqdir.[13]
Dalam kepemimpinan Ali bin Abi Thalib seusai perang Shipin  ditanya oleh seorang kakek tua tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan pahala dan siksa, orang tua itu bertanya: “Bila perjalanan menuju perang ada pahala sebagai balasannya”  Sayidina ‘Ali menjelaskan bahwa qadha dan qadhar  bukanlah paksaan tuhan, sehingga adanya pahala dan siksa itu sebagai balsan amal perbuatan amal manusia, sekiranya qadha dan qadhar  itu merupakan paksaan maka batallah pahala dan siksa, gugur pulalah makna janji  dan ancaman tuhan serta tidak ada celaan atas pelaku dosa dan puian tuhan bagi orang-orang yang berprilaku baik.[14]
Pada pemerintahan dawulah Bani Umayyah pandangan tentang Al Jabar semakin mencuat ke permukaan dan ini dapat dilihat dari surat yang dikirimkan dari Abdulloh Bin Abbas yang memberikan reaksi keras terhadap penduduk Syiriya yang diduga berfaham Jabbariah.[15]
Pada akhrnya Golongan Jabbariyah terbagi menjadi dua, yakni Jabbariyah ektrim dan Jabbariyah  moderat. Jabbariyah ekstrim berpendapat bahwa satu perbuatan tidak dapat dinisbatkan sama sekali kepada manusia dan tidak memiliki kemampuan apapun didalam mewujudkan suatu perbuatan. Inilah pemahaman mayoritas golongan  Jabbariyah yang menjadi semboyan faham fatalisme mereka.[16]
Adapun Jabariyah moderat menetapkan bahwa adanya kemampuan bagi manusia yang tidak memiliki dampak apapun dalam mewujudkan sebuah pekerjaan. Diantara pemuka jabariyah ekstrim adalah Jahm bin Shofwan dan jad bin Dirham kemudian pemuka dari jabariyah moderat adalah An-Najar pengikutnya disebut An-Najariayah dan Dliror bin Umar dan Hafas Al Fardi pengikutnya disebut Ad-Dliroriyah.[17]

2.1.6    Pengertian Moderat
Kata moderat adalah suatu sikap yang berusaha mengakomidir pandangan orang lain yang tidak bersikap terlalu memihak kepada suatu kubu atau golongan tetapi cenderung netral, pertengahan, sederhana dan berhaluan lunak tidak eksrtim.[18]
2.1.7    Pengertiab Menurut
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata  menurut  memiliki makna meniru, mencontoh, memenuhi, ketentuan, mengikuti, jejak, jalan, langkah dan dipakai dalam kiasan lain. [19]
           
2.1.8    Pengertian Perspektif
Kata perspektif adalah kerangka konseptual, perangkat, gagasan, sudut pandang, yang mempengaruhi persepsi seseorang sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi tindakan seseorang dalam situasi penomena tertentu.[20]
2.1.9    Pengertian Ahlu Sunnah wal Jamaah
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia kata ahlu memiliki makna oarang yang paham, mahir, makna lain keluarga, kaum,  dan golongan.[21]
Kata  sunah  secara etimologi adalah jalan yg biasa ditempuh, kebiasaan, dan secara terminologi adalah aturan agama yang didasarkan atas segala apa yang dinukilkan dr Nabi Muhammad saw, baik perbuatan, perkataan, sikap, maupun kebiasaan yangg tidak pernah ditinggalkannya, dan perbuatan yg apabila dilakukan mendapat pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.[22]
Kata  jamaah dilihat dalam sudut pandang ilmu nahwu merupakan sighat masdar samai tsulasi mujarod bab ke tiga [23]( جمع – يجمع – جمعه ) yang artinya kumpulan, sekelompok kaum, golongan.  Jadi Ahlu Sunah wal Jamah adalah  golongan muslimin yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw, para sahabat, Tabi’in At-tabbi’at dan segenap ulama Salafu As-sholihin.

2.2       Lughot dan Terjemah
            2.1.1    Lughot
الضرارية  اصحاب ضرار بن عمر وحفصى الفرد واتفاقهما فى التعطيل
انّهما قالا البارى تعالى عالم قادر على معنى انّه ليس بجاهل ولا عجز[24]
           

2.1.2    Terjemah
Pendiri aliran ini adalah Dliror bin Umar dan Hafas Al-Fardi, keduanya sependapat dalam adanya sifat Alloh SWT tentang masalah Ta’til keduanya berkata : “Bahwa Alloh SWT Maha Mengetahui  dan Maha Kuasa, maksudnya Alloh SWT tidak bodoh dan tidak lemah.[25]


2.3       Kaidah Ilmu Nahwu, Shorof dan Bilagah
                        2.3.1    Narkib
الضرارية       : مبتداء تغكه رفع علامة رفعنا كوضمة كلمه نا اسم مفراد صغة نا ت غاكدهن 

صغة سبب غير متصرف.

اصحاب         : خبر تنا لفظ الضرارية تغكه رفع علا مة رفعنا كو ضمة كلمه نا جمع تكسر صغة 

نا مصدر كالواران ثلاثي مجرد باب كا تلو صحب-يصحب-صحبا تلوي دي جمع تكسر كن جدي اصحاب

ضرار : مضاف اليه تغكه جيئير علامة جيئير نا كو كسراه كلمه نا اسم مفراد صغة نا ت غكدوهن 

صغة سبب غير متصريف

ابن      : صفة تنا لفظ ضرار تغكه جيئير علامة جيئيرنا كو كسراه كلمه نا اسم مفراد 
صغة نا هنت غكدوهن صغة سبب غير متصريف.

عمر    : مضاف اليه تغكه جيئر علامة جيئرنا كو كسراه كلمه نا اسم مفراد صغة صغة نا هنت 

غكدوهن صغة سبب غير متصريف.

واو     : حراف عطف دي مبنكن كانا فتحه هنت بوكا محل دينا اعراب

حفص  : معطوف تغكه جيئيير علامة جييرنا كو كسره كلمه نا اسم مفراد صغة صغة نا هنت 

غكدوهن صغة سبب غير متصريف.

الفرد   : معطوف تغكه جيئيير علامة جييرنا كو كسره كلمه نا اسم مفراد صغة صغة نا هنت 

غكدوهن صغة سبب غير متصريف.

واو     : حرف استئناف بياني دي مبنكن كانا فتحه هنت بوكا محل دينا اعراب.

اتفاق   : مبتداء تغكه رفع علامة رفعنا كوضمة كلمه نا اسم مفراد صغة نا مصدر كالوران ثلاثي 

مزيد ورنا كادوا باب كادوا .

هما     : مضاف اليه تغكه جيئير دي مبنكن كان سكون يجغان دينا محل جيئير كلمه نا ضمير 

متصل مجرور تدوه كان تثنيه مذكر غائب بالكنا ضمير كان لفظ ضرار.

فى      : حراف جار اصليه معنى نا ضرفيه تعلقنا كان لفظ كائن استقرا صغة نا هنت غكدوهن 

صغة سبب غير متصريف دى مبنيكن كان سكون ججغان دينا محل جيئر.

التعطيل         : مجرور تغكه جيئر علامة نا كو كسراه كلمه نا اسم مفراد  صغة نا مصدار

 كالواران ثلاثى مازيد ورنا كاهج باب كادوا عطّل-يعطّل-تعطيلا تلوي دى جئركن جغ دى اليف 

الامان جدى التعطيل سجملهان جار جغ مجرورنا ججغان دينا محل رفع سبب جدى خبر جملة.

انّ       : عامل نواشخ صغرا  عمل نا تنصب الاسم وترفع الخبر دى مبنيكن كان فتحة هنت 

غكدوهن  محل دينا اعراب.

هما     : اسم ان تغكه نصب دى مبنيكن كان سكون ججعان دينا محل نصب كلمه نا ضمير متصل 

منصوب تدوه كان تشنيه مذكر غائب بلكنا ضمير كان لفظ ضرار جغ عمر

 ساجملهان ان جغ اسم نا 

جغ خبر نوبكل داتغ ججغان دينا محل رفع سبب جدى خبر جمله تنا لفظ اتفاق.

قالا     : فعل ماضى مبنى فتحة صغةنا فعل ماضى كلوارن ثلاثى مجرد باب كاهج معتل عين 

بغساء واو  قال-يقول-قولا قال اصلنا قول كلنتران واو حرف عيلة دى باريسان توميبا سبعد باريس 

فتحة مك توكركن واونا كان اليف علة نا لتحركها وانفتح ماصح قبلها  جدى قالا. فعلنا ضمير

 متصل مرفوع تدوه كان تشنيه غائب بلكنا ضمير كان لفظ ضرار جغ  عمر سجملهن فعل

 جغ فاعل نا ججغان دينا محل رفع سبب جدى خبر تنا لفظ انّ.

البارى : مبتداء تغكه رفع علامة رفع نا كوضمة مقدارة كان سكون كلمه نا اسم مفرد صغة نا هنت

 غكدوهن صغة سبب غير متصريف. سجملهان مبتداء لفظ البارى جغ خبر نوبكل داتغ ججغان دينا 

محل نصب سبب جدى مفعول به.

تعالى   : فعل ماضى مبنى فتحة  مقدراه كان سكون هنت غاكدهن محل دينا اعراب كلمه جغ صغة 

نا فعل ماضى كلواران ثلاثى مزيد ورنا كادوا باب كاليما معتل الام بغساء واو تعالو-يتعالو-تعالوا. 

تعالى اصلنا تعالو كلنتران واو ديبرسان تور ججغ  دينا  كا اوفة اتوا لويه مك توكركن  واونا كان 

اياء جدى تعاليَ كلنتران اياء ديباريسان توميبا سبعد بريس فتحه توكركن اياءنا كان اليف ريغكول 

انتوغ جدى تعالى. فاعل نا ضمير  متصل مرفوع مستتير جواز تدوه كان مفرد مذكر غائب لمون 

دى منفصل كن لفظ هو بالكنا ضمير كان لفظ البارى. سجملهان فعل جغ فاعلنا 

ججغان دينا محل نصب سبب جدى حال.

عالم    :  خبر مبتدأ تغكه رفع علامة رفع نا كو ضمه كلمه نا اسم مفراد  صغةنا اسم فاعل كلوارن 

ثلاثى مجرد باب كااوفة علم-يعلم-علما فهوا عالم تلوي دي رفعكن  جدي عالم.

قادر    : صفة حقيق تنا لفظ عالم تغكه رفع علامةة رفع نا كو ضمه كلمه نا  اسم مفراد صغةنا

 اسم فاعل كلواران ثلاثى مجرد باب كادوا قدر-يقدر-فهو قادر.

على    : حراف جار اصليه معنى نا استعلاء تعلق نا كان لفظ عالم دى مبنى كن 

كان سكون  هنت غكادهن محل دينا اعراب.

معنى   : مجرور تغكه جيئر علامة جيئرنا كو كسراه مقدراه كان سكون

صغة نا هنت غكدوهن صغة سبب غير متصريف.

انّ       : عامل نواشخ صغرا  عمل نا تنصب الاسم وترفع الخبر

 دى مبنيكن كان فتحة هنت غكدوهن  محل دينا اعراب.

ـــــهُ    : اسم انّ تغكه نصب دى مبنى كن كان ضمه ججعان دينا محل نصب 

كلمه نا ضمير متصل 

منصوب تدوه كان مفرد مذكر غائب بلكنا ضمير كان لفظ البارى سجملهان 

اسم نا جغ خبرنا انو بكل داتغ ججغان دينا محل جيئر  سبب جدى مضاف اليه تنا لفظ معنى.

ليس    : عامل نواشخ صغرا عملنا ترفع الاسم وتنصب الخبر دى مبنى كن كان سكون هنت 

غكدوهن  محل دينا اعراب. اسم نا ضمير متصل مرفوع مستيتر جواز تدوه كان مفرد مذكر غائب 

لمون دى منفصل كن لفظ هو بلكنا ضمير كان لفظ البارى سجملهان ليس اسم نا 

جغ خبر نوبكل داتغ ججغان دينا محل رفع سبب جدى خبر تنا لفظ انّ.

بِ       : حراف جار اصليه معنى نا استعلاء تعلق نا كان لفظ استقرا كائن انودى سمفين 

 دى مبنى كن كان كسراه  هنت غكادهن محل دينا اعراب.

جاهل  : مجرور تغكه جيئر علامة جيئرنا كو كسراه  كلمه نا اسم مفراد صغة نا اسم فاعل كلواران 

ثلاثى مجرد  باب كا اوفة جهل-يجهل-فهو جاهل تلوي دى جيئركن جدى جاهلٍ سجملهان جار جغ 

مجرورنا  ججعان دينا محل نصب سبب جدى خبر ليس.

واو     : حرف عطف دى مبنى كن كان فتحة هنت غاكدهن محل دينا اعراب.

لا       : حرف نفى دى مبنىكن كان سكون هنت غاكدهن محل دينا اعراب.

عاجز  : معطف دى عطفكن كان لفظ جهل تغكه جيئر علامة جيئرنا كو كسراه  كلمه نا اسم مفراد 

 صغةنا اسم فاعل كلوارن ثلاثى مجرد باب كادوا عجز-يعجز-فهو عاجز

 تلوي دى جيئركن جدى عاجزٍ.


                        2.3.2 Kaidah Nahwu , Sorof  dan   Bilagah
قوله    : (الضرارية  اصحاب ضرار بن عمر وحفصى الفرد واتفاقهما فى التعطيل ... الخ)
Dalam materi di atas lafadz ( الضرارية )  ditinjau dari ilmu Nahwu kedudukannya sebagai mubtada dan tinjau dari ilmu balagah  lafadz ( الضرارية )  adalah sebagai musnad ileh dari lafadz ( اصحاب ). Qaidah Mubtada :
جروميه                   : الاسم المرفوع العارى عن العوامل الفظية
الفيه              : المبتداء زيد وعادر خبر      *       ان كلت زيد عادر من اعتدر
جوهر المكنون : اسناد مسند اليه مسند *       ومتعلقات فعل تورد
Lafadz ( اصحاب ) ditinau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai khobar dari lafadz ( الضرارية ) dan ketika ditinjau dari ilmu balagah  lafadz ( اصحاب ) kedudukannya sebgai musnad dari lafadz ( الضرارية ) Qaidahnya:
جروميه                   : والخبر اسم  المرفوع المسند اليه
الفيه              : والخبر الجزء المتم الفائدة    *       كالله بر ولأياد شاهدة
جوهر المكنون : اسناد مسند اليه مسند *       ومتعلقات فعل تورد
Lafadz   ( ضرار )ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai ma’tuf  ileh dari lafadz ( اصحاب )  qaidahnya :
جرومية         : فان عطفت بـهـا على مرفوع رفعت اوعلى منصوب نصبت
  اوعلى مخفوظ خفظت اوعلى مجزوم زجمت
الفيه    : يتبع فى الاعراب الاسماء الأول      *       نعت وتوكيد وعطف وبدل
            Lafadz ( ابن )  ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai sifat dari lafadz   ( ضرار ) qaidahnya :
جرومية         : النعت تابع للمنعوت فى رفعه  ونصبه وخفضه ... الخ
الفية    : فالنعت تابع متم ماسبق        *       نعت وتوكيد وعطف وبدل
Lafadz ( عمر )   ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai ma’tuf ileh dari lafadz ( ضرار ), qaidhnya :
جرومية         : فان عطفت بـهـا على مرفوع رفعت اوعلى منصوب نصبت
  اوعلى مخفوظ خفظت اوعلى مجزوم زجمت
الفيه    : يتبع فى الاعراب الاسماء الأول      *       نعت وتوكيد وعطف وبدل
Lafadz wawu( و )   ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai haraf ‘Athaf, qaidhnya :
جروميه         : وحروف  العطف عشرة وهي الواو والفاء وثمّ واو وام ...الخ
الفيه    : فالعطف مطلقا بواو ثم فاء   *       حتى ام او كفيك صدق ووفا
            Lafadz  ( حفص ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai ma’tuf dari lafadz ( عمر ) qaidahnya :
جرومية         : فان عطفت بـهـا على مرفوع رفعت اوعلى منصوب نصبت
  اوعلى مخفوظ خفظت اوعلى مجزوم زجمت
الفيه    : يتبع فى الاعراب الاسماء الأول      *       نعت وتوكيد وعطف وبدل
            Lafadz  ( الفرد ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai ma’tuf ileh dari lafadz (حفص ) qaidahnya :
جرومية         : فان عطفت بـهـا على مرفوع رفعت اوعلى منصوب نصبت
  اوعلى مخفوظ خفظت اوعلى مجزوم زجمت
الفيه    : يتبع فى الاعراب الاسماء الأول      *       نعت وتوكيد وعطف وبدل
Lafadz  ( و ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya di sini sebagai haraf isti’naf bayan  yaitu untuk memulai suatu pembahasan.
Lafadz  ( اتفاق ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai mubtada qaidahnya :
جروميه         : الاسم المرفوع العارى عن العوامل الفظية
الفيه    : المبتداء زيد وعادر خبر      *       ان كلت زيد عادر من اعتدر
Lafadz  ( هما ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai mudhof ileh  dari ladaz ( اتفاق ) qaidahnya :
جروميه         : المخفوضات ثلاثة اقسام مخفوض بالخرف ومخفوض بالأضافة وتبع للمخفوض
الفيه    : وثانى اجرور وانوى من اوفى اذا    *       لم يصلح لذاك ولماالهدى

Lafadz  ( هما ) kalimatnya sebagai dhomir, qaidahnya :      
جروميه         : مادل على مسماه بقيد التكلم اومخاطب اوغائب
الفيه    : فما لدى غليبة اوحضور      *       كأنت وهوسم بالضمير
Lafadz  ( هما ) kalimatnya sebagai dhomir muttasil majrur, qaidahnya :  
الفيه    : للرفع والنصب وجرّنا صلح           *       كاعرف بنا فاءنّنا نلنا المنح
Lafadz  ( فى ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya haraf  jar asliyah yang memiliki ma’na dhorfiyah dan muta’alaq, qaidahnya :
جورميه         : وخروف الخفض وهي من والى وعن وعلى وفىى ...الخ
الفيه    : وهو مايحتج الى متعلق       *       له معنى فى نفسه يتعلق
معنى فى        : وزيد والضرفية استبن ببا    *       وفى وقد يبينان السببا
Lafadz  ( التعطيل ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai majrur oleh   ladaz ( فى ) qaidahnya :
جروميه         : المخفوضات ثلاثة اقسام مخفوض بالخرف ومخفوض بالأضافة وتبع للمخفوض
الفيه    : هك حروف الجرّ وهي من الى       *       حتى خال حاشا عدا فى عن على

قوله    : (انّهما قالا البارى تعالى عالم قادر على معنى انّه ليس بجاهل ولا عجز)

Lafadz  ( انّ ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai amil nawasikh sugra, qaidahnya : مايغير على احدهما  
جروميه         : (عملنا)  تنصب الاسم وترفع الخبر
الفيه    : لأن انّ ليت لكنّ لعل *       كأنّ عكس ما لكان من عمل
Lafadz  ( هما ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai isim lafadz (انّ) , qaidahnya :
جروميه         : (عملنا)  تنصب الاسم وترفع الخبر
الفيه    : لأن انّ ليت لكنّ لعل *       كأنّ عكس ما لكان من عمل
Lafadz  ( هما ) ditinjau dari ilmu nahwu kalimatnya  sebagai dhomir munfasil mansub, qaidahnya :
جروميه         : مالايبتداء به ولايقع بعد الاّ فى الاختيار
الفيه    : للرفع والنصب وجرّنا صلح *       كاعرف بنا فاءنّنا نلنا المنح
Lafadz  ( قالا ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya  sebagai fi’il madhi, qaidahnya :
جروميه         : فالماض مفتوح الاخر ابدا
الفيه    : وفعل امر ومضي بنيا         *       واعربوا مضارعا ان عريا
Lafadz  ( قالا ) ditinjau dari ilmu sorof merupakan mu’tal a’in bangsa wawu, qaidahnya :
صرف :  ماكان عينه حرف علة
علة قلب         :  لتحركها وانفتح ماصح قبلها
Lafadz  ( البارى ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya  mubtada, qaidahnya :
جروميه                   : الاسم المرفوع العارى عن العوامل الفظية
الفيه              : المبتداء زيد وعادر خبر      *       ان كلت زيد عادر من اعتدر
Lafadz  ( تعالى ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya  hal, qaidahnya :
جرومية         : الاسم المنصوب المفسر لمن انبهم من الهيأت
الفية    : الحال وصف فضلة منتصب          *       مفهم فى حال كفرد ا أذهب
Lafadz  ( عالم ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai khobar dari lafadz ( البارى ) qaidahnya :
جروميه         : والخبر اسم  المرفوع المسند اليه
الفيه    : والخبر الجزء المتم الفائدة              *       كالله بر ولأياد شاهدة
Lafadz  ( قادر ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai sifat hakeqi dari lafadz  ( البارى ) qaidahnya :
جروميه         : مارفع اسما ضميرا مستتيرا يعود الى منعوت
الفيه    : فالنعت تابع متم ماسبق                 *       بوسمه اوسمه اووسم مابه اعتلق
Lafadz  ( على ) ditinjau dari ilmu nahwu kalimahtnya  haraf  jar asliyah yang memiliki ma’na isti’la  dan muta’alaq, qaidahnya :
جورميه         : وخروف الخفض وهي من والى وعن وعلى وفىى ...الخ
الفيه    : وهو مايحتج الى متعلق       *       له معنى فى نفسه يتعلق
معنى على      : على للاءستعلا ومعنى فى وعن      *       بعن تجاوزا عن من قد فظن

Lafadz  ( معنى ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai majrur oleh   ladaz ( على ) qaidahnya :
جروميه         : المخفوضات ثلاثة اقسام مخفوض بالخرف ومخفوض بالأضافة وتبع للمخفوض
الفيه    : هك حروف الجرّ وهي من الى       *       حتى خال حاشا عدا فى عن على

Lafadz  ( انّ ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai amil nawasikh sugra, qaidahnya : مايغير على احدهما  
جروميه         : (عملنا)  تنصب الاسم وترفع الخبر
الفيه    : لأن انّ ليت لكنّ لعل *       كأنّ عكس ما لكان من عمل
Lafadz  ( ــــهُ ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai isim ( انّ ) kalimatnya adalah dhomir muttasil mansub, qaidahnya :
جروميه         : مالايبتداء به ولايقع بعد الاّ فى الاختيار
الفيه    : ودواتصال منه ما لايبتدا     *       ولايلى الاختيارا ابدا
الفيه    : للرفع والنصب وجرّنا صلح *       كاعرف بنا فاءنّنا نلنا المنح
Lafadz  ( ليس ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai amil nawasikh sugra, qaidahnya : مايغير على احدهما  
جروميه         : (عملنا)  تنصب الاسم وترفع الخبر
الفيه    : اعمل ليس اعملت مادون ان *       مع بقا النفس وترتيب زكن

Lafadz  ( بِ ) ditinjau dari ilmu nahwu kalimahtnya  haraf  jar asliyah yang memiliki ma’na  lilinsok  dan muta’alaq, qaidahnya :
جورميه         : وخروف الخفض وهي من والى وعن وعلى وفىى ...الخ
الفيه    : وهو مايحتج الى متعلق       *       له معنى فى نفسه يتعلق
معنى ب         : بالبا استعين وعدّ عوِد الصق *       ومثل مع ومن وعن بها انطق
Lafadz  ( جاهل ) ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai majrur oleh   ladaz ( بِ ) qaidahnya :
جروميه         : المخفوضات ثلاثة اقسام مخفوض بالخرف ومخفوض بالأضافة وتبع للمخفوض
الفيه    : هك حروف الجرّ وهي من الى       *       حتى خال حاشا عدا فى عن على
Lafadz wawu( و )   ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai haraf ‘Athaf, qaidhnya :
جروميه         : وحروف  العطف عشرة وهي الواو والفاء وثمّ واو وام ...الخ
الفيه    : فالعطف مطلقا بواو ثم فاء   *       حتى ام او كفيك صدق ووفا
Lafadz wawu( لا )   ditinjau dari ilmu nahwu kedudukannya sebagai haraf nafi, qaidhnya :
جروميه         : اعلم انّ لا تنصب النكرة بغير تنوين
الفيه    :عمل انّ اجعل للافى النكرة   *       حمفردة جاءتك اومكررة



Lafadz  ( عاجز ) ditinjau dari ilmu  nahwu  kedudukannya  sebagai  ma’tuf  dari  lafadz ( جاهل ) qaidahnya :
جرومية         : فان عطفت بـهـا على مرفوع رفعت اوعلى منصوب نصبت
  اوعلى مخفوظ خفظت اوعلى مجزوم زجمت
الفيه    : يتبع فى الاعراب الاسماء الأول      *       نعت وتوكيد وعطف وبدل


2.4       Dalil-Dalil
Sebuah keterangan mengatakan  : " الكلم بلا دليل لم يسمع "  bahwa ketika seseorang berbicara tanpa diiringi dengan dalil atau argumen maka jangan didengar (dipercaya). Maka daripada itu penulis di sini menguatkan  sebuah argumentasi dengan memberikan alasan pembuktian dalil untuk meyakinkan para pembaca yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-hadits.

                        2.4.1 Dalil Al-Qur’an
a.       Ayat tentang pola fikir Jabbariyah :

وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلآئِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ 

كُلَّ شَيْءٍ قُبُلاً مَّا كَانُواْ لِيُؤْمِنُواْ إِلاَّ أَن يَشَاء اللّهُ 

وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ    
                                   

Artinya :
“Kalau Sekiranya Kami turunkan Malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”  (Q.S Al-An’am ayat: 111)[26]

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ۚ 

وَلِيُبْلِىَ ٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَآءً حَسَنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya :
Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Al-Anfal : 17)[27]


وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artnya:            Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S Al-Insan 30)[28]

b.      Melihat Alloh SWT di  Surga
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ  إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ  

Artinya:         
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (Q.S Al-Qiyaamah 22-23)[29]

c.       Af’al Mudhtor dan Mukhtar (Kasab dan iktisab) :

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ 

وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Artinya:
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (Q.S At-Taubat  :51)[30]
 d.      ‘Itiqad Ahlu Sunnah wal Jamaah
وَإِنَّ لَكُمْ فِى ٱلْأَنْعَٰمِ لَعِبْرَةً ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِۦ 
مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّٰرِبِينَ
Artinya :
Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (Q.S An-Nahl : 66)


                        2.4.2    Dalil Al-Hadits
انّكم سترون ربّكم كما ترون ليلة البدر

Artinya :
“Sesungguhnya kalian semua akan melihat Tuhan-Mu, sebagaimana kamu melihat bulan  di malam purnama.” [31]

فعليكم بسنتى وسنة الخلفاء الرشدين المهديّـــــين  (رواه ابو داود والترمدى وقال حديث حسن صحيح)
Artinya : “Berpegang  teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para khulafaurrosyidin  yang telah mendapatan peunjuk semua” (H.R Abu Dawud  dan Tirmidzi  di berkata  Hadits ini Hasan dan Shahih).[32]
  
2.5       Pendapat Ulama Lian
Imam Ma’turidi berpendapat bahwa Alloh SWT, di akhirat kelak dapat dilihat  dengan mata, karen Alloh SWT mempunyai wujud walaupun imaterial namun, melihat Alloh kelak di akhirat tidak dalam  bentuk (bila kaifa) karena keadaan di akhirat tidak sama dengan keadaan di dunia.[33]
Imam Al-‘As’ary berpendpat bahwa Alloh SWT dapat dilihat  di akhirat tetapi tidak dapat di gambarkan. Melihat jug dapat terjadi mana kala Alloh SWT  berkehendak menyebabkan dapat dilihat ataupun  bilamana Alloh menciptakan  pengelihatan kepada hambanya untuk bisa melihat kepada Dzat Alloh  SWT. [34] 


2.6       Kerangka Berpikir

Kondisi umat islam saat ini benar-benar telah terkontaminasi aqidahnya,  hal ini bukan disebabkan  oleh pengaruh dari dunia selain islam, melainkan  umat islam sendirilah yang menjadi penyebab kemunduran mereka dalam berbagai sektor kehidupan khususnya keterpurukan mereka dalam masalah aqidah atau keimanan. Salahsatu penyebabnya adalah jauhnya umat islam dari sumber khaznah islam, baik jauhnya mereka daripada ulama atau hilangnya rasa cinta dan kepedulian mereka terhadap perkembangan islam.

Akses inilah yang menyebabkan umat islam mudah terpengaruh dengan ideologi sesat, eksesnya menimbulkan panatisme golongan yang hayper (berlebihan) yang sulit untuk diluruskan.

Kemudian mengamati evaluasi diatas penulis menghadirkan rumusan pembaahasan dengan mengkombinaasikan dari berbagai macam dalil, baik dari Al-Qur’an, Al-Hadits serta pendapat para ulama. Selanjutnya penulis menyesuaikan dalil-dalil tersebut untuk  melakukan tarjih pendapat, sehingga dapat dipisahkan mana ideologi yang sesat dan mana ideologi yang tidak sesat menurut kaca mata  Ahli sunnah wal Jamaah.

Sampel yang digunakan penulis mewakili berbagai aliran yang memerlukan tingkat kehati-hatian yang cukup sulit yakni membahas suatu ideologi sub jabariah yang dikeanl dengan golongan Ad-Dliroriah dan menurut pertimbangan penulis berdasarkan himpunan dalil-dalil, baik daalil naqli maupun dalil naqli. Golongan Ad-Dliroriah merupakan golongan yang moderat dari kelompok jabariyah yang mesti diwaspadai karena sebagian dari pendapat-pendapat mereka ada yang bertolak belakang dengan keyakinan ahlu sunnah wal jamaah salah satunya pengingkaran mereka terhadap hadits ahad tanpa kompromi, sangat berbeda dengan ahlu sunnah wal jamaah yang masih memberikan tempat terhadap hadits ahad dalam menetapkan hukum.

Inilah sekelumit permasalahan yang akan diuraikan penulis dalam skripsi ini dengan harapan para pembaca bisa memahami lebih objektip dan menyalahkanpun lebih objektip disertai kesadaran tentang betapa pentingnya masalah keimanan, shingga timbul motivasi untuk menjaga, memelihara, dan meningkatkan keimanan.  



BAB III
PEMBAHASAN

A.                Peranan Indra ke enam dalam melihat Alloh SWT.
Dliror Ibnu Amar dan Hafasin Al-Fardi berpendapat bahwa indra ke enam yang dimiliki oleh manusia, dengan indra ke enam itu bisa melihat Alloh SWT pada hari pembalasan  segala amal kebaikan diSurga.[35]
Alloh SWT bisa di lihat pada hari qiyamat kelak dengan indra ke enam orang mukmin dapat melihat bentuk Alloh SWT dan dliror berpendapat Alloh swt memiliki bentuk yang tidak dimiliki siapapun  tapi orang mukmin  bisa melihatnya dengan pelantara indra ke enam, pendapat ini pula diikuti oleh Hafsin Al-Fardi.[36]
B.                 Pemahaman Konsep Perbuatan Alloh dan Makhluk
Dliror Ibnu Amar dan Hafasin Al-Fardi berpendapat bahwa adanya dua pelaku di dalam satu hasil pekerjaan secara bersamaan. Mereka juga berpendapat bahwa Alloh SWT bisa merubah sifat-sifat ( ‘arod ) menjadi bentuk materi ( ajsam ) dan mampu merubah kuasa menjadi lemah serta kelemahan yang terdapat  di dalam materi itu adalah sebagian dari materi tersebut.[37]
Pada konsep Isthito’ah (mampu atau kuasa) terjadi pada sebelum menghasilkan pekerjaan akan tetapi mereka menambahkan bahwa adanya isthitho’ah itu sebelum, ketika dan sesudah perbuatan, mereka mengisthilahkan  hal tersebut sebagai setengah perbuatan dari makhluk dan setengahnya lagi dari perbuatan Alloh SWT.[38]
C.                Sumber  Ajaran Golongan Ad-Dliroriyah Hanya Ijma’
Sebelum diturunkan wahyu bahwa tidak ada kewajiban sebelum diutus Rosul, karena Rosul itulah  yang menyampaikan perintah dan larangan. Dliror Ibnu Amar dan Hafasin Al-Fardi berpendapat bahwa sumber ajaran islam sesudah masa Rosululloh SAW hanya ijma’.[39]
D.                Penolakan  Golongan Ad-Dliroriyah Terhadap Hadits Ahad
Dliror Ibnu Amar dan Hafasin Al-Fardi keduanya menolak seluruh hadits ahad, seperti Qiroah Ibnu Mas’ud dan Ubai Bin Ka’ab.  Dihikayatkan  tentang Dliror bahwa dia mengingkari qiro’ah Ibnu Mas’ud dan Ubai Bin Ka’ab serta memberikan kepastian bahwa Alloh SWT tidak pernah menurunkan qiro’ah seperti itu.[40]
E.                 Penerapan Konsep Imamah menurut Ad-Dliroriyah
Dliror Ibnu Amar dan Hafasin Al-Fardi juga berpendapat bahwa imamah (pengangkatan seorang pemimpin) boleh saja dari yang bukan Suku Quraiys namun, apabila ada keturunan Rosululloh  dan Quraiys berkumpul maka diutamakan keturunan Rosul dengan alasan jumlah keturunan Rosul lebih sedikit bilangannya. Melalui cara ini akan lebih mudah memberhentikan pemimpin apabila  tindakannya bertolak belakang dengan syari’at islam.[41]
Mu’tazilah sekalipun membolehkan  mengangkat imam selain dari Quraiys namun, mereka tidak membolehkan mendahulukan  turunan Quraiys  dari keturunan Rosulloh SAW.[42]
  

3.2              Bantahan Ahlu Sunnah mengenai Ideologi Ad-Dliroriyah
A.                Peranan indra Indra ke enam dalam melihat Alloh SWT

Menurut Ahlu sunnah wal jamaah rukyah (melihat) Alloh SWT itu akan berlangsung   “bila kaifin wan hinshorin” yakni dengan tanpa suatu cara dan tak ada batas, ungkapan “bila kaifin wan hinshorin”  mengandung dua makna:

1.      Bahwa rukyah itu tidak menggunakan cara bagi dzat yang dilihat dengan satu cara diantara cara-cara makhluk dengan menggunakan panca indra yakni saling menghadap, mengambil jihat (arah) menggunakan tempat dan sebagainya.

2.      Bahwa tidak ada ada batas bagi  dzat yang dilihat  di sisi orang yang melihat dengan sekira ia dapat meliputinya karena mustahlinya segala batas dan akhir atas Alloh SWT.[43]

Makna yang terkandung di atas adalah bantahan dan jawaban kepada golongan Ad-Dliroriyah yang berpendapat bahwa rukyah (melihat) Alloh SWT dengan indra ke enam itu pendapatnya salah dan bertolak belakang dengan pendapat Ahlu sunnah wal jamaah. Dan secara akal bahwa jikalau Alloh SWT bisa dilihat dengan indra ke enam maka secara pasti Allah SWT  akan berhadapan dengan orang yang melihatnya berada pada suatu jihat dan tempat sementara bagi Alloh SWT tidak membutuhkan jihat dan tempat karena  Alloh SWT tersifati oleh sifat muhkholafatulil hawaditsi.

Imam Al’as’ary berpendapat bahwa Alloh SWT dapat dilihat  di akhirat tetapi tidak dapat digambarkan “bila kaifin” dan melihat dapat terjadi manakala Alloh SWT  sindiri yang menyebabkannya dapat di lihat atau bilamana Alloh SWT menciptakan penglihatan kepada manusia itu sendiri untuk melihat kepada Alloh SWT.[44]

Syeikh Ibrahim Al-Laqqani berpendapat dalam Kitab Al Tuhfatul Murid dalam sya’iran baitnya :
ومنه ان يظهر بالأبصار  *      لكن بلاكيف ولا انحصار
Diantara perkara yang jaiz (boleh) atas Alloh SWT adalah bahwa Alloh SWT dapat dilihat dengan mata bagi orang-orang muknin, akan tetapi dengan tanpa cara dan tidak terbatas.[45]

Ru’yatulloh  adalah sesuatu yang boleh terjadi menurut akal di dunia maupun di akhirat kelak. Hal ini karena Alloh SWT adalah maujud dan setiap yang maujud boleh dilihat. Akan tetapi rukyah di dunia tidak pernah terjadi bagi selain kepada Nabi Muhammad SAW, sedangkan ru’yah di akhirat adalah wajib menurut syara’. Sebagaimana  telah disepakati oleh Ahlu Sunnah wal jamaah  berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma para ulama.

Sebagaimana Firman Alloh SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Qiyamah ayat 22-23 :
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ  إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ  
Artinya :  
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu   berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.  (Al-Qiyamah 22-23 )[46]

Al-Qur’an Surat Yunus ayat 26 :
لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
Artinya:
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya   (QS. Yunus : 26)[47]

                 Menurut mayoritas Ahli Tafsir yang dimaksud dengan “al husna wa ziyaddah” ialah kenikmatan melihat Allah SWT.
Al-Qur’an Surat Al-Qaaf ayat 35 :

لَهُم مَّا يَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
Artinya :
Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki dan pada sisi Kami ada tambahannya.  (QS. Al-Qaaf ayat: 35)[48]
                 Menurut Imam Annas Bin Malik arti “ziyadah” (tambahan) disini adalah melihat Alloh SWT.
Dan berdasarkan hadits tentang melihat Alloh SWT :
انّكم سترون ربّكم كما ترون ليلة البدر
Artinya :
“Sesungguhnya kalian semua akan melihat Tuhan-Mu, sebagaimana kamu melihat bulan  di malam purnama.” [49]

                 Penyerupaan dengan melihat bulan purnam aadalah dalam hal melihat bulan purnama adalah dalam hal tidak adanya keraguan dan kesamaran bukan penyerupaan untuk dzat yang dilihat  sebagaimana orang disangka.

كنّا جلوسا مع النّبيى   فنظر الى القمر ليلة اربع عشرة فقال انّكم سترون ربَّكم عيانا كما ترون هذا لاتضامّون فى رؤيته
(رواه بخارى المسلم)
Artinya:
Kami pernah duduk-duduk bersama Nbai Muhammad SAW kala itu beilau telah memandang bulan di malam ke empat belas. Beliau lalu bersabda  sesungguhnya  kalian kan melihat  Alloh SWT dengan mata kepala sendiri sebagai mana kalian melihat bulan ini, tidaklah kalian akan mengalami kesulitan dalam melihat. (HR. Bukhari Muslim)[50]

A.  H       Pemahaman Konsep perbuatan Alloh dan Makhluk
Menurut pandangan Ahlu Sunnah wal Jamaah ‘af’aululloh (pekerjaan Alloh) terbagi menjadi dua :
1.    Af’alulloh yang mudhthor adalah pekerjaan Alloh yang langsung tanpa disambungkan kepada makhluk-Nya, seperti menciptakan langit, bumi, matahari, kematian, perjodohan, jenis kelamin, Alloh menciptakan sakitnya seseorang yang kasabnya habis-habisan, susah payah tapi tetap fakir, sebagaimna Firman Alloh SWT dalam Surat Al-Fathir ayat 2 :

مَّا يَفْتَحِ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ 

وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ                    

Artinya :
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, Maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah Maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[51]

2.    Pekerjaan Alloh yang mukhtar ialah pekerjaan yang melalui proses hukum adat atau usaha makhluk seperti Alloh menciptakan luka melalui proses golok yang dipegang orang lain, dan Alloh mentakdirkan seseorang beruntung dengan usahanya dengan persambungan orang itu. Sebagaiman firman Alloh dalam Al Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 286 :

 لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ

Artinya : “Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”[52]

Selanjutnya mengenai af’alul ‘ibad (perbuatan-perbuatan hamba) Syekh Ibrahim al-Bajuri memberikan komentar brilian di dalam bait Jauhar Tauhid :

وعندنا للعبد كسب كلفا     *      ولم يكن مؤثرا فلتعرفا

فليس مجبورا ولا اختيارا         *      وليس كلاّ يفعل اختيارا
Artinya :
“Dan menurut kami (ahlussunnah) hamba itu mempunyai kasab yang dengannya dia terkena taklif dan tidaklah kasab itu sebagai yang memberi bekas maka hendaklah engkau mengetahui. Maka tidaklah hamba itu terpaksa dalam arti tidak mempunyai pilihan dan bukanlah dia itu menciptakan tiap-tiap peruatan yang ikhtiari.”[53]

Penjelasan mengenai bait diatas dikemukakan secara gamblang dan terperinci oleh Syekh Ibrahim al-Laqony dalam kitabnya Tuhfatul Murid, beliau menjelaskan dalam masalah perbuata-perbuatan hamba terdapat tiga madzhab :

1.    Madzhab Ahlussunnah
Tidak ada bagi hamba itu didalam perbuatan-perbuatannya yang ikhtiari (tidak terpaksa) kecuali kasabnya (usaha).

2.    Madzhab Jabariyah
Tidak ada bagi hamba itu kasab melainkan ia majbur (terpaksa) seperti bulu yang tergantung di udara diterbangkan oleh angin kemanapun ia suka.

3.    Madzhab Mu’tazilah
Hamba itu adalah pencipta bagi perbuatan-perbuatannya yang ikhtiari dengan Qudrot yang diciptakan Alloh padanya.[54]

Menurut pandangan penulis klasifikasi madzhab ini adalah uraian secara global karena jika ditelaah lebih jauh maka kita akan menemukan pada madzhab Jabariyah pun ada yang berkelindan pendapatnya dengan pemahaman Mu’tazilah seperti halnya golongan Adh-Dhiroriyah yang merupakan subsekte moderat dari madzha Jabariyah, adapun uraiannya telah dikemukakan terdahulu.
Kemudian dari tiga pendapat diatas nampaklah bahwa Jabariyah itu terlalu mengabaikan dan Mu’tazilah terlalu berlebihan. Sedangkan Ahlussunnah berada di pertengahan dan sebaik-baiknya perkara adalah yang pertengahan maka madzhab Ahlussunnah telah mengeluarkan dari antara kotoran dan darah suatu susu murni yang lezat serta mudah diteguk oleh peminumnya.

Jika dikatakan telah tegak dalil bahwa Alloh SWT itu bersendiri dengan segala perbuatan dan maqdur (kejadian) yang tunggal tidaklah masuk dibawah dua qudrot, sebagaimana dilazimkan oleh penetapan kasab oleh hamba maka dapatlah dijawab tatkala telah tegak dalil bahwa yang menciptakan itu adalah Alloh SWT dan dengan adanya kemadaratan masuklah qudrot hamba itu pada sebagian perbuatan seperti gerakan menendang, tidak sebagian lain seperti gerakan gemetaran, maka kami berhujjah didalam menghindari kesempitan ini dengan bahwa Alloh lah pencipta bagi perbuatan. Akan tetapi bagi hamba didalam perbuatan yang ikhtiari ada kasab dan maqdur yang tunggal, boleh masuk dibawah dua qudrot dengan dua jihat (arah) yang berbeda. Maka masuklah ia dibaawah qudrot Alloh SWT dengan jihat penciptaan dan dibawah aqudrot hamba dengan jihat kasab.

Kasab itu sendiri menurut para ulama adalah sesuatu yang dengannya terjaid maqdur tanpa sahnya kesendirian si Qodir (yakni hamba) terhadap maqdur itu, walaupun hamba itu memiliki kasab didalam perbuatan-perbuatan yang ikhtiari, namun tidaklah hamba itu melakukan ta’tsir (pemberian bekas) terhadap perbuatan-perbuatan ikhtiari. Inilah yang dimaksud dalam bait :
ولم يكن مؤثرا فلتعرفا
Artinya :
“Dan tidaklah kasab itu sebagai yang memberi bekas, maka hendaklah engkau mengetahui.”
Dengan demikian, maka hamba itu adalah majbur dari segi batin dan mukhtar (tidak terpaksa) dari segi dzohir. Oleh karena itulah Syekh Ibrahim ad-Dasuki berkata :

من نظر للخلق بعين الحقيقة عذرهم ومن نظر لهم بعين الشرعية مقتهم
Artinya :
“Barangsiapa yang memandang sekalian makhluk dengan mata hakikat maka ia akan menganggap udzur (berhalangan) tapi barangsiapa yang memandang mereka dengan mata syariat maka ia akan membenci mereka.”[55]

Dengan ungkapan lain dapatlah dikatakan bahwa hamba itu adalah majbur fii shuroti mukhtar, yakni terpaksa dalam rupa yang tidak terpaksa dan dalam penafian ta’tsir inilah dapat dipahami adanya penolakan Ahlussunnah terhadapa Mua’tazilah.

Dari keterangan diatas dimana hamba itu memiliki satu bagian didalam perbuatan-perbuatannya yang ikhtiari yang disebut dengan kasab, maka dapat kita simpulkan bahwa satar bait  فليس مجبورا ولا اختيارا “Tidaklah hamba itu terpaksa” dalam arti tidak punya pilihan dalam segala perbuatan yang ihktiari.[56]

Kesimpulan ini merupakan bantahan terhadap golongan Adh-Dhiroriyah yang mengatakan bahwa ada intevensi makhluk dalam satu hasil pekerjaan dengan pengertian suatu pekerjaan dilakukan secara bersamaan antara Alloh SWT dengan hambanya.

Dalam permasalahan ini, Imam al-Asy’ary berusaha untuk memperkuat atas pendapat tersebut dengan cara membedakan antara perbuatan idhtiror dan kasab (ikhtiar). Pada perbuatan pertama terdapat unsur keterpaksaan manusia melakukan sesuatu tanpa dapat dihindarinya walaupun ia berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan hal itu,  sedangkan dalam perbuatan yang kedua tidak terdapat unsur paksaan didalamnya namun, keduannya itu adalah perbuatan Alloh.[57] Argumen ini sama dengan firman Alloh SWT dalam Quran surat Al-Insan ayat 30 :
وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا


Artinya : Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.[58]

Maksud ayat ini menurut Imam al-Asy’ary adalah bahwa manusia tidak menghendaki sesuatu tanpa dihendaki oleh Alloh SWT. Jika seseorang berkehendak untuk pergi ke Mekah maka kehendaknya ini akan terlaksana jika Alloh SWT menghendakinya. Jadi kehendak manusia satu dengan kehendak Alloh dan kehendak yang ada dalam diri manusia itu tidak lain adalah kehendak Alloh SWT.[59]

Melihat uraian tersebut Imam al-Asy’ary berada pada posisi yang keluar dari lingkaran Jabariyah dan Qodariyah. Oleh sebab itu dia mengemukakan sebuah ajaran yang mengambil jalan tengah dan sering diistilahkan dengan “teologi poros tengah”, melalui teori kasab ini sebagai ajaran pertengahan yang dimaksud adalah manusia dalam perbuatannya bebas tapi terikat, terpaksan tapi masih mempunyai kebebasan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa disinilah letak keunikan teologi Imam al-Asy’ary untuk memberi peluang kepada generasi berikutnya dalam memberikan interpretasi dan penjelasan-penjelasan positip demi improvisasi (pengembangan) kajian Akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

B.                Sumber Ajaran Golongan Ad-Dliroriyah Hanya Ijmaa
Ahlu sunnah wal jamaah  menyangkal pandangan Ad-dliroriyah yang berpendapat bahwa sumber ajaran islam hanya izma. Sahabat  adalah salah seorang yang telah dijaminkan oleh hadits sebagai seorang yang memiliki keluasan ilmu dan boleh diikuti pendapat-pendapatnya karena mereka diibaratkan seperti bintang yang menerangi dan mampu memberikan solusi di dalam urusan agama.

            Selanjutnya diterangkan di dalam Hasyiah Al-Bajuri bahwa segala sesuatu yang diikhtilafkan oleh sahabat, maka siapapun boleh diikuti karena Nabi Muhammad SAW bersabda:
اصحاب كالنجوم بأيهم اقتديتم اهتديتم
Artinya :
“Para sahabatku diibaratkan laksana bintang, kepada siapapun kalian mengikuti  mak akalian akan mendapatkan petunjuk”[60]

            Keterangan dzohir hadits ini adalah menyatakan para sahabat merupakan para muztahid yang layak untuk diikuti, walaupun ahli sunnah sepakat bahwa hadits ahad tidak memberikan faidah yaqin dan tidak bisa dijadikan hujah dalam permasalahan ushul (pokok-pook agama) akan tetapi hadits ahad wajib digunakan di dalam masalah furu’ (cabang-cabang agama).
            Jadi penolakan total hadits tidak dapat diterima dan pernyataan golongan Ad-Dliroriyah  tentang izma sahabat sebagai satu-satunya landasan beragama tidak dapat dibenarkan menurut pandangan ahlu sunnah wal jamaah.

C.            Penolakan Ad-Dliroriyah terhadap Hadits Ahad 
Ahlu Sunnah wal Jamaah berpendapat  bahwa hadits ahad sebuah istilah penyaduran secara bahasa, ahad adalah berita (hadits) dari satu sumber  dengan seorang perowi bukan dua dan seterusnya. Akan tetapi ahli fiqih dan ahli kalam selalu menyamakan setiap hadits, baik ahad ataupun goer ahad memberikan ffaidah sehingga menimbulkan keyakinan.[61]  

Memang dapat dibenarkan hadits ahad tidak melahirkan keyakinan akan tetapi wajib diamalkan apabila perowi yang menukilnya bersifat adil dan tidak ada pertentanngan dari keterangan lain yang lebih kuat dari keterangn tersebut. Jadi apabila seandainya shohih matan-matan haditsnya tidak terkesan mustahil menurut akal maka wajib diamalkan bukan untuk diyakini. Dengan pengertian ini para fuqoha menetapkan hadits ahad  pada cababang-cabang hukum syara seperti ibadah, mu’amalah, bab halal dan haram, dan menyesatkan golongan yang menggugurkan  kewajiban beramal menggunakan hadits ahad.[62]

Selanjutnya Imam Al-Ghazali memberikan komentar seputar hadits ahad beliau menyatakan bahwa : “Kami berpendapat bahwa khobar ahad tidak menghasilkan hadits ahad tidak menghasilkan keyakinan (ilmu).”  Masalah ini adalah perkara yang telah diketahui secara luas (ma’lum bi al dlarurah). Sesungguhnya kami tidak membenarkan  (mengimani) dan mengakui pertentangan diantara dua berita, lantas bagaimana kami bisa meyakini dua perkara yang bertentangan? Adapun  pendapat-pendapat yang diturunkan oleh ahli hadits, bahwa hadits ahad itu wajib diyakini, maka ketahuilah bahwa yang mereka maksdud  “hadits ahad mengahsilkan ilmu”  adalah wajibnya seseorang mengamalkan isi hadits ahad tersebut.[63]
Kesimpulannya hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang sohabat yang memberikan faidah dzon (prasangka) dan tidak pernah naik drajatnya menjadi qot’i (yaqin) oleh karenanya  hadits ahad tidak boleh dijadikan hujah untuk permasalahan yang besifat ushul tapi wajib diterima untuk hal-hal yang bersifat furu’ selagi tidak ada keterangan lain yang membatalkkan hadits tersebut serta tidak ada kontradikisi ma’na dengan hadits-hadits shohih.

Jika diamati  dari perilaku para ulama dalam berhadits  mereka memiliki perbedaan dalam menilai suatu riwayat apakah mutawatir atau tidak, shohih atau tidak. Perbedaan penilian ini yang disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah perbedaan dalam menetapkan  kriteria kemutawatiran suatu berita (hadits). Penilaian  terhadap personalitas perowi dan perbedaan dalam hal usul hadits.

D.            Penerapan Konsep Imamah
Ahlu sunnah wal jamaah memiliki pendapat bahwa wajib hukumnya atas umat islam  mengangkat seorang imam yang ‘adil ketika tidak adanya nash dari Alloh dan Rosulnya yang menunjuk terhadap orang tertentu dan juga ketika tidak adanya istikhlaf (penunjukan) dari imam terdahulu.
Lain halnya ketika ada nash dari Alloh SWT seperti firman-Nya dalam Qur’an Surat As-Shaad ayat 26 :
يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ 

Artinya :
“Wahai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, (QS. As-Shaad 26).”[64]

Atau ketika ada nash dari Rosulnya atau adanya istikhlaf dari imam terdahulu seperti yang pernah terjadi dari Abu Bakar As-Sidiq dimana beliau berpesan agar Umar menjadi kholifah sesudahnya.
Dan imam yang adil itu harus memiliki lima kriteria syarat:
1.      Islam, karena orang kafir tidak akan memperhatikan maslahat kaum mulimin.
2.      Baligh.
3.      Berakal, karena anak keccil dan orang gila tidak dapat menangani urusannya  sendiri, maka bagaimanakah dia akan bisa menangani urusan orang lain.
4.      Merdeka, karena hamba sahaya sibuk berkhidmat  kepada tuannya  dan juga karena dia terhina di mata manusia maka tidaklah dia punya wibawa sehingga tidak dilakukan perintahnya.
      5.      Tidak Fasiq, karena orang fasiq tidak bisa dipercaya perintah dan larangannya.[65]

BAB IV
KESIMPULAN

          Hadirnya pemahaman jabbariah moderat  adalah disebabkan oleh banyak pengaruh dari para tokoh jabbariah yang heterogen dari berbagai  macam k-alangan, terutama dari  k alangan para ulama dan filosof  yang selanjutnya terjadi akulturasi antara pemahaman ulama dan filsafat yang tidak utuh  ssehingga terpatenkan menjadi sebuah ideologi jabbariah moderat diantara subsektenya adalah ad-dliroriah.

          Dalam hal ini penulis mengambil  kesimpulan bahwa Ad-dliroriah memiliki pemahaman yang bertentangan dengan ahlussunnah wal jamaah. Ahlussunnah wal jamaah memberikan parameter kesesatan  Ad-dliroriah dalam lima hal  :

1.     Tentang peranan indra ke enam dalam melihat Alloh SWT, hal ini dibantah dengan alasan : "Alloh SWT tidak dapat dilihat dengan sesuatu cara, dengan cara-cara makhluk."

2.  Tentang fatalisme makhluk dalam melakukan suatu perbuatan, hal ini dibantah dengan argumen : "makhluk masih memiliki ikhtiar untuk mengerjakan atau meninggalkan suatu pekerjaan diistilahkan dengan iktisab dan tanpa menapikan perbuatan  tuhan secara hakiki.

3.     Sumber ajaran mereka adalah izma para sahabat, doktrin ini dibantah oleh ahli sunnah dengan tiga pilarnya yakni Al-Qur’an Al-Hadits, dan izma.

4.     Mereka menolak hadits ahad, dan ini tidak bisa diterima karena mau bagaimana pun ahlussunnah memandang hadits tetaplah hadits, walaupun hanya diriwayatkan oleh seorang perowi, terlebih perowi hadits itu  adalah sahabat yang telah dijaminkan oleh hadits untuk diikuti.

5.     Tentang konsep imamah mereka tidak memperbolehkan untuk mendahulukan keturunan quraiys dari keturunan Rosul SAW. Pandangan ini ditolak oleh ahlussunnah wal jamaah menyebutkan bahwa : "Masalah imamah itu cukup memiliki lima kriteria tanpa memperhitungkan keturunan, lima kriteria tersebut adalah  islam, baligh, berakal, merdeka dan tidak fasiq.

BAB V
PENUTUP


وَكُنْ اَخِيْ لِلْـمُبْتَدِى مُسَامِحًـا      *      وَكُنْ لِاِصلاَحِ اْلفَسَادِ نَاصِحًا
Jadikanlah segala kemurahan bagi seseorang yang masih belajar dan jadikanlah koreksi sebagai nasihat, melalui bait tersebut penulis menutup rangkaian pembahasan skripsi ini dengan penuh harapan mampu membrikan manfaat secara konstan maupun non konstan, bagi siapa pun yang memiliki ketertarikan dalam kajian skripsi ini.
Selanjutnya tiada gading yang tak retak,tiada bunga yang berguguran, sangatlah dimungkinkan terjadinya kesalahan dalam berbagai macam segmen, baik dari penulisan, pembahasan maupun kesalahan-kesalahan lainnya, harapan dari penulis semoga hal tersebut dapat dimaklumi dan bisa ditindak lanjuti melalui kritik beserta saran yang membangun demi terciptanya skripsi yang baik dan benar sebagaimana mestinya dimasa yang akan datang.

5.1       Saran untuk umum dan pembaca
            Bagi para pembaca harus mampu mendistorsi berbagai macam informasi untuk                                    menghasilkan aksiomasi mana yang hak dan mana yang salah terutama dalam
            masalah idelogi ketauhidan melalui prinsip aqidah Ahlu sunnah waljamaah.

5.2.      saran untuk Almamater
            Miftahul huda harus selalu bisa survive terhadap tri program  pesantren yaitu Ulamaul                          amilin, imamal muttaqin, dan muttaqin.

5.3. Do’a dan munajat.

إِلَهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً          *             وَلاَ أَقْوَى عَلىَ نَارِ الْجَحِيْمِ

فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ   *           فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ

ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ                 *                  فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذَا الْجَلاَلِ

وَعُمْرِيْ نَاِقصٌ فِي كُلِّ يَوْمِ      *           وَذَنْبيِ زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ

إِلَهِي عَبْدُكَ الْعَاصِي أَتَاكَ       *           مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ        *           وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُوْ سِوَاكَ

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ        *           وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُوْ سِوَاكَ

Ya Robby, aku bukanlah ahli surga
Juga tak mampu menahan siksa neraka

Kabulkan taubat ampuni dosa-dosaku
Hanyalah Engkau pengampun dosa hamba-Mu

Dosa-dosaku tak terhitung bagai debu
Ya Illahi terimalah amal taubatku

Sisa umurku berkurang setiap hari
Dosa-dosaku makin bertambah Yaa Illahi

Hamba yang berdosa datang bersimpuh
Menyembah-Mu

Mengaku menyeru dan memohon ampunan-Mu












[1] Kamus Ilmiah Populer Cet. Lintas media, Jombang hal. 99
[2] Dra. Stefanie Paramitha, Kamus Bahasa Indonesia cet. Pustaka Dwipar Jakarta, hal. 244
[3] Abdul Kohir bin Tohir, Al-Farqu Bainal Firok hal. 166
[4] KBBI Cet. Pusat Bahasa Depdiknas.  Jakarta, 2008 hal. 252
[5] Ibid. hal. 456
[6] Luis ma’luf, Al Munjid hal. 78
[7] KH. Khoer Affandy, Kitab Tasrifan Cet.Miftahul Huda  hal.26
[8] Syekh Ibn Malik,  Ibnu ‘Aqil  Cet. Darul Islamiyah hal. 181
[9] Harun Nasution, Teologi Islam hal. 30
[10] Asy-Syarastani, Aswadie Syukur LC. 
  Terjemah kitab Al-milal wa An-Nihal   pt.bina ilmu hal. 85
[11] Harun Nasution, Teologi Islam CV. hal. 31
[12] Aziz Dahlan, Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam   hal. 27
[13] Ali Musthafa Al Ghurabi, Tarikh Al-Firqah Al Islamiyah hal. 15
[14] Ali Musthafa Al Ghurabi, Tarikh Al-Firqah Al Islamiyah hal. 28
[15] Huwaidhy, Dirasat fi Ilmil Kalam Wafalsafah Islamiyah  hal. 98
[16] Nasution, Teologi Islam hal. 34
[17] Imu Kalam hal. 68
[18] Burhani MS, Kamus Ilmiyah Populer Cet. Lintaas Media Jombang hal. 441
[19] KBBI Cet. Pusat Bahasa Depdiknas.  Jakarta, 2008 hal. 1572
[20] Burhani MS. Kamus Ilmiah Populer Cet. Lintas Media Jombang, hal. 441
[21] KBBI Cet. Pusat Bahasa Depdiknas.  Jakarta, 2008I hal. 39
[22] Ibd hal. 1245
[23] KH. Khoer Affandy Kitab Tasrifan Cet, Miftahul Huda  hal. 14
[24] Asyahrastani Al Milal wal Nihal DKI hal. 77
[25] Asyahrastani, Prof. Aswadie syukur LC. Cet. pt. Bina ilmu
    Terjemah Al Milal wal Nihal  hal. 74
[26] Al Qur’an Terjemah Depag. RI
[27] Ibid. 
[28] Ibid. 
[29] Ibid. 
[30] Ibid. 
[31] Muttafaq ‘Alaih
[32] Hadits arba’in ke 28
[33] Ilmu Kalam hal. 12
[34] History Of Muslim Fhilosofi hal. 234
                [35] Asy-Syahrastani, Al-Milal wa An-Nihal hal. 74
                [36] Abdul Kohir bin Tohir, Alfarqu Bainal Firaq hal 122
                [37] Asy-Syahrastani, Al-Milal wa An-Nihal, DKI hal. 78
                [38] Abdul Kohir bin Tohir, Alfarqu Bainal Firaq hal 121
                [39] Asy-Syahrastani, Al-Milal wa An-Nihal, DKI hal. 78
                [40] Ibid hal. 78
                [41] Ibid hal. 78
                [42] Ibid hal. 78
                [43] Tgh Mujabarahman, Permata Tauhid  Cet. Mutiara Ilmu Surabaya hal.161
                [44] Al’as’ary,  A history of Muslim Philosofy hal. 234
                [45] Syeikh Ibrahim Al-Laqqani, Tuhfatul Murid DKI hal.146
                [46] Al-Qur’an Terjemah Depag. RI Penerbit 
                [47] Ibid 
                [48] Ibid 
                [49] Muttafaq ‘Alaih
                [50] Tgh. Majiburrahaman, Permata Tauhid Cv. Mutiara Ilmu Surabaya hal. 160
                [51] Al-Qur’an Terjemah Depag. RI Penerbit
                [52] Ibid.
                [53] Syekh Ibrahim al-Bajuri, Matan Jauhar Tauhid,
                [54] Syekh Ibrahim al-Laqony, Tuhfatul Murid, DKI, hal. 134.
                [55] Tgh. Majiburrahaman, Permata Tauhid Cv. Mutiara Ilmu Surabaya
                [56] Ibid hal. 134-136.
                [57] Imam al-Asy’ary, hal 75-76.
                [58] Al-Qur’an Terjemah Depag. RI Penerbit
                [59] Ibid, hal. 93.
                [60] Syekh Ibrahim Al Bajuri, Khosyiah Al-Bajuri cet. Haromaen, hal. 16
                [61] At-Tahmid hal. 194
                [62] Abdul Kohir bin Tohir, Al-Farqu Bainal Firaq, hal 312
                [63] Imam Al Ghazali,  Al-Musthofa Fi Ilmal Ushul hal. 116
                [64]  Al-Qur’an Terjemah Depag. RI Penerbit hal.
                [65] Syekh Imam Al-Laqqani, Tuhfatul Murid DKI. Hal. 254
           









Komentar

Postingan populer dari blog ini

macam-macam :PIDATO SERAH TERIMA CALON PENGANTIN

Hukum Mewakilkan Niat